Senin, 13 April 2015

mahasiswa febi berperan sebagai tuan pedagang barang antik dalam naskah "Nyonya-Nyonya" produksi teater ASA


tuan dalam salah satu adegan saat latihan/image.doc/blue-newspaper.com/nz


Di panggung “Nyonya-Nyonya” teater Asa, kedatangan seorang pria tambun mengawali cerita karya Wisran Hadi, dengan di sutradarai oleh Widya Noor Rahmad, yang kerap di panggil “Benyok”. Pria berperawakan tinggi, agak gemuk, lesung di pipinya menambah sentuhan manis parasnya, di jari tangannya lengkap dengan asesoris cincin berbatu akik, panggil saja Tuan Wirawan. Ia adalah seorang pedagang barang antik dari Jakarta. Tokoh tengil ini diperankan oleh Muhammad Naufal Alfirdaus, mahasiswa semester 4 (empat), jurusan Ekonomi Islam, UIN Walisongo Semarang.

Samping kiri panggung dari kursi penonton, Tuan Wirawan berdiri, wajahnya tampak cemas melihat-lihat langit sepertinya akan turun hujan. Tak menunggu lama, gemuruh guntur terdengar. Kemudian hujan benar-benar turun, dengan tergesa Tuan berlari mencari tempat berteduh. Sampailah di teras depan rumah milik Nyonya, Hayati, bersuamikan seorang bangsawan dari tanah Minang dan mempunyai 3 (tiga) keponakan cantik; Aminah, Maimunah, dan Selly. Mereka akan menambah warna di panggung Nyonya-Nyonya ini. 

Sambil mengusap beberapa titik basah di bajunya, ia menggerutu tentang cuaca yang tak tentu dan sulit dipastikan. Bahkan prakiraan cuaca di televisi setiap pagi pun meleset. Ia merasa dirugikan adanya cuaca tak menentu, pekerjaannya menjadi terhambat. Ketengilan Tuan membuat Nyonya kelabakan, sekalipun Nyonya sudah memarahi kedatangan Tuan yang tiba-tiba di depan rumahnya, Tuan punya sejuta kata untuk berkilah.
Nyonya semakin jengah dengan sikap Tuan. Sudah berulang kali Nyonya memperingatkan untuk lekas enyah dari teras depan rumahnya, sebab keadaan Nyonya saat itu hanya seorang diri lantaran suaminya sedang di rawat di rumah sakit, dan ia sungguh menjaga baik martabat seorang istri. Tapi Tuan tetap enggan pergi, malahan Tuan menawar tempat ia berdiri. Sangat mengesalkan, apa dikira semua hal dapat dibeli dengan uang. Naluri pedagangnya sungguh mendarah daging. Dikiranya semua barang yang ia lihat mengeluarkan keantikannya. Nyonya menjadi semakin gemas, begitu Tuan semakin cerdik berkilah. Bagaimana nasib Nyonya yang sedang sendirian di rumah? Apa yang terjadi dengan tempat Tuan berdiri? Padahal itu adalah milik Nyonya. 

“Aku semakin deg-degan, sebentar lagi mau pentas. Tapi aku tetap semangat berlatih, mempersembahkan sebaik-baiknya untuk Asa, dan semuanya.” tandas Kania kepada blue-newspaper.com salah satu aktor yang memerankan Aminah, keponakan tertua paman Arifin Bachri, suami Nyonya Hayati.

Lima bulan berjalan proses penggarapan naskah Nyonya-Nyonya karya Wisran Hadi oleh teater Asa semakin memacu semangat menuju pementasan yang akan digelar di Auditorium 1 (satu), kampus 1 (satu), UIN Walisongo Semarang, akhir April ini. Saksikan pementasannya.... (NZ)



penulis : Ninik Zakia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar